Menata Peradaban Demokrasi.

JAKARTA, Analisariau.com -  Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) serentak 2018 tinggal sebentar lagi, bahkan persiapan oleh Instansi terkait...

JAKARTA, Analisariau.com -  Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) serentak 2018 tinggal sebentar lagi, bahkan persiapan oleh Instansi terkait sudah dipersiapkan sejak dini.

Pada pilkada 2018 sebanyak 171 daerah akan melaksanakannya, yang terdiri dari Pemilihan Gubernur di 17 daerah, Pemilihan Bupati di 115 daerah dan Pemilihan Walikota di 39 daerah.

Dede Farhan Aulawai selaku Pengamat Demokrasi lewat rilisnya kepada media mengatakan, Konon pesta rakyat ini akan memakan anggaran sebasar Rp 11,3 triliun untuk KPU dan Rp 4,63 triliun untuk Bawaslu, jadi total sebesar Rp. 15,93 Triliun. Bukan angka yang sedikit apalagi jika kita gunakan untuk pembangunan yang langsung menyentuh kebutuhan rakyat. Angka tersebut angka resmi yang dikeluarkan dari kantong Negara melalui kas APBN/ APBD, dimana angka sesungguhnya pasti lebih besar lagi karena para calon peserta pilkada pasti juga merogoh kocek dalam jumlah yang sangat besar. Sulit sekali mendapatkan angka yang pasti karena khawatir tercium berbau money politic, maka semua disiasati agar terkesan wajar dan tidak menyalahi aturan.

Bicara soal angka mungkin bisa diperdebatkan karena tergantung sudut pandangnya masing – masing. Namun pada kesempatan ini tidak ada salahnya jika kita mau merenung sejenak dan bertanya pada hati masing – masing, seperti :

- Budah benarkan jalan demokrasi yang kita tempuh ini ?

- Benarkah ini peta jalan demokrasi yang dikehendaki oleh para pendiri bangsa ini ?

- Sejalankah dengan nafas sila ke 4 Pancasila yang berbunyi : Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan.
Dengan tidak mengendurkan semangat untuk mensukseskan program Pemerintah, tapi juga tidak ada salahnya bila kita mau berkontemplasi diri untuk menentukan arah demokrasi yang lebih santun, yaitu demokrasi yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan. Demokrasi Indonesia adalah Demokrasi Pancasila, bukan demokrasi bebas seperti di barat. Indonesia adalah Indonesia, kita memiliki jati diri yang patut kita banggakan yaitu berlandaskan pada ideologi Pancasila.
Inilah adab dari demokrasi Indonesia.

Demokrasi memang menjamin kebebasan berpendapat, tetapi bukan pendapat dengan cara yang kasar tanpa mengindahkan kesantunan dan keluhuran nilai – nilai kita sebagai bangsa. Seringkali debat yang saling menghina dan mencaci dipertontonkan dengan lugas dan bebas seolah seperti itulah demokrasi yang benar. Tapi kita lupa bahwa di saat itu anak – anak juga sedang menyaksikan kita. Mereka belajar dari perilaku dan bahasa orang tuanya, sehingga wajar jika akhirnya anak – anak kita sering berteriak, saling mencaci dan membenci di jalanan. Tidak semata – mata salah mereka, tapi mungkin juga ada andil kesalahan kita yang sering mempertontonkan kesombongan, keangkuhan dan kekasaran di depan mata anak – anak kita.

Untuk itulah mari kita kembali pada nilai.

– Nilai luhur Pancasila yang menjunjung tinggi keadaban dalam kehidupan, termasuk kehidupan demokrasi kita. Demokrasi kita terlalu memakan biaya yang sangat besar sehingga hak untuk berkompetisi seolah – olah hanya diperuntukkan bagi mereka yang kaya dan tak peduli kekayaannya dari mana. Administrasi pemilu kita terlalu rumit yang mempersempit ruang bagi independen untuk maju. Independen sebenarnya merupakan jalur alternative tatkala dinding kepartaian begitu tebal untuk ditembus. Kembali bertanya, Inikah yang dimaksud jalan demokrasi yang sesuai dengan Pancasila ? Dengan kesadaran yang dalam untuk Indonesia yang lebih baik mari kita merenung dengan hati dan fikiran yang tenang agar beban Negara untuk pesta demokrasi ini tidak terlalu berat. Yuk kita mengabdi untuk bangsa dan Negara dengan jalan meringankan beban demokrasi yang berat ini. Tentu tidak bisa diambil keputusan sesaat, melainkan difikirkan matang – matang oleh setiap insan yang tulus berbakti pada negeri. (rilis)

Oleh Pengamat Demokrasi : Dede Farhan Aulawi

Nama

Advertorial,61,Batam,4,Bengkalis,374,Berita,685,Biografi,17,Bisnis,79,Dumai,449,Dunia,78,Editorial,7,Hukum,767,Inhil,99,Inhu,34,Kampar,120,Kepri,9,Kuansing,63,Kuliner,7,l,1,Lifestyle,67,Meranti,65,Nasional,1271,Olahraga,196,Pekanbaru,399,Pelalawan,70,Pendidikan,33,Peristiwa,241,Politik,104,Redaksi,1,Riau,1212,Rohil,76,Rohul,66,Siak,105,Sumatera,138,Teknologi,46,Traveling,52,Video,61,
ltr
item
Analisariau: Menata Peradaban Demokrasi.
Menata Peradaban Demokrasi.
https://3.bp.blogspot.com/-_7NON4xuVkI/WZ-KuCCdx6I/AAAAAAAAF70/S7tn8sSwMpc44KW4Z-CZrAKosn97ack5wCLcBGAs/s320/IMG_20170825_093825.jpg
https://3.bp.blogspot.com/-_7NON4xuVkI/WZ-KuCCdx6I/AAAAAAAAF70/S7tn8sSwMpc44KW4Z-CZrAKosn97ack5wCLcBGAs/s72-c/IMG_20170825_093825.jpg
Analisariau
http://www.analisariau.com/2017/08/menata-peradaban-demokrasi.html
http://www.analisariau.com/
http://www.analisariau.com/
http://www.analisariau.com/2017/08/menata-peradaban-demokrasi.html
true
8225591636268580222
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy